annyeong haseyo ... ^^

Minggu, 01 Mei 2011

Analisis aktif deterjen dan enzim dalam deterjen

BAB II

KAJIAN TEORI

Salah satu produk PT. Unilever, yaitu deterjen merupakan produk pembersih yang umum digunakan oleh masyarakat banyak untuk mencuci pakaian atau proses pembersihan lain, selain sabun. Dibanding dengan sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air. Pada dasarnya deterjen tetap bereaksi dengan mineral-mineral air sadah, akan tetapi hasil reaksinya terdapat dalam bentuk dispersi kolodial atau larut dalam air (Cahya dkk. 2009). Dahulu masyarakat menggunakan sabun sebagai bahan pencuci, namun karena kelebihan yang dimiliki oleh deterjen, kini masyarakat mulai beralih ke deterjen.

2.1. Definisi Deterjen

Deterjen merupakan campuran berbagai bahan, juga terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi yang digunakan untuk membantu pembersihan. Deterjen adalah garam dari sulfonat atau sulfat berantai panjang dari natrium (RSO3- Na+ dan ROSO3- Na+). Deterjen mempunyai keunggulan dalam hal tidak mengendap bersama logam dalam air (Senja 2010).

2 RSO3Na + Ca2+ > (RSO3)2 Ca + 2 Na2+

Sebagai bahan pembersih, deterjen merupakan hasil dari kemajuan teknologi yang memanfaatkan bahan kimia dari hasil penyulingan minyak bumi, ditambah dengan bahan kimia lainnya seperti fosfat, silikat, bahan pewarna, dan bahan pewangi. Sekitar tahun 1960-an, deterjen generasi awal muncul menggunakan bahan kimia pengaktif permukaan (surfaktan) Alkyl Benzene Sulfonat (ABS) yang mampu menghasilkan busa. Namun, karena sifat ABS yang sulit diuraikan oleh mikroorganisme pada permukaan tanah, maka ABS digantikan dengan senyawa Linier Alkyl Benzene Sulfonat (LAS) yang relatif lebih ramah lingkungan. LAS merupakan bahan baku pembuat deterjen yang terbuat dari turunan minyak bumi. Struktur surfaktan dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Struktur Linear Alkil Benzena Sulfonat (LAS)

2.1.1. Reaksi pembuatan deterjen

Deterjen dibuat dari alkil benzena. Rantai alkil benzena sulfonat berasal dari minyak bumi. Rantai ini dibentuk dari rantai alkena lurus (10-12 atom karbon dengan cincin benzena). Alkil benzena yang dihasilkan kemudian direaksikan dengan asam sulfat pekat membentuk alkil benzena sulfonat. Selanjutnya asam ini dinetralkan oleh natrium hidroksida membentuk deterjen.

2.1.2. Bahan penyusun deterjen

Dalam deterjen terdapat beberapa bahan penyusun, di antaranya:

1. Surfaktan

Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai gugus yang berbeda yaitu hidrofilik (suka air), gugus yang tertarik pada senyawa polar dan hidrofobik (suka lemak), gugus yang tertarik pada senyawa non polar, (Gambar 3). Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan air. Surfaktan berfungsi menghilangkan atau mengendapkan kotoran dalam larutan dan sebagai pengemulsi (Timurti Betty Cahya dkk. 2009).

Secara garis besar, terdapat empat kategori surfaktan, yaitu :

a. Anionik : Surfaktan yang gugus hidrofilnya bermuatan negatif (dapat

tertarik kearah medan listrik positif). Contoh: Alkyl Benzena

Sulfonate (ABS), Linear Alkyl Benzene Sulfonate (LAS). Surfaktan jenis ini biasa digunakan untuk deterjen, sabun mandi dan kosmetik (cleansing agent untuk kulit wajah).


b. Kationik : Surfaktan yang gugus hidrofilnya bermuatan positif (dapat

tertarik ke arah medan listrik negatif) dan gugus hidrofilnya adalah senyawa amino quarternary nitrogen.

Contoh: lauril, alkil, dan dialkilamina. Surfaktan jenis ini biasanya digunakan sebagai bahan anti korosi dan sanitizer serta pelembut tekstil.

c. Non ionik : Surfaktan yang gugus hidrofilnya tidak bermuatan.

Contoh: alkohol etoksilat (synperonic), alkil fenol etoksilat. Jenis surfaktan non ionik ini dapat juga digunakan untuk deterjen, tetapi biasanya digunakan untuk pelapis furniture

d. Amphoterik : Surfaktan yang mempunyai dua gugus hidrofil yang

bermuatan positif (basa) dan bermuatan negatif (asam).

Contoh: coco amidopropyl betaine yang merupakan

surfaktan pada sampo.

Surfaktan yang digunakan pada deterjen adalah jenis surfaktan anionik yaitu LAS (Linier Alkil Benzena Sulfonat). Surfaktan anionik dalam deterjen ini berfungsi sebagai zat pembasah yang akan masuk ke dalam ikatan antara serat kain dan kotoran yang menyebabkan kotoran menjadi menggulung sehingga menjadi besar dan akhirnya terlepas dari serat kain.

2. Builder (pembentuk)

Builder (pembentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci surfaktan dengan cara menonaktifkan mineral penyebab kesadahan air. Selain itu builder juga dapat membantu menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat berlangsung lebih baik serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah dilepas. Contoh dari builder, antara lain:

a. Fosfat : Sodium Tri Poly Phosphate (STPP)

b. Asetat : Nitril Tri Acetate (NTA), Ethylene Diamine Tetra Acetate (EDTA)

c. Silikat : Zeolit

d. Sitrat : Asam sitrat

Builder yang biasa dimanfaatkan di dalam deterjen adalah fosfat dalam bentuk senyawaan Sodium Tri Poly Phospate (STPP). Fosfat mempunyai fungsi penting dalam deterjen yaitu sebagai softener air. Fosfat juga mampu menurunkan kesadahan air dengan cara mengikat ion Ca2+ dan Mg2+. Karena aksi softenernya, efektivitas dari daya cuci deterjen meningkat. Fosfat tidak bersifat racun, bahkan sebaliknya fosfat merupakan salah satu nutrisi penting yang dibutuhkan oleh mahluk hidup. Namun dalam jumlah yang terlalu banyak, fosfat juga dapat menyebabkan pengkayaan unsur hara (eutrofikasi) yang berlebihan di dalam badan air, sehingga badan air kekurangan oksigen akibat dari pertumbuhan algae (phytoplankton) berlebih yang merupakan makanan dari bakteri. Populasi bakteri yang berlebihan ini akan menggunakan oksigen dalam air yang suatu saat akan menyebabkan terjadinya kekurangan oksigen di badan air dan pada akhirnya justru membahayakan kehidupan mahluk hidup dan sekitarnya.

3. Filler (pengisi)

Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas berat jenis dari deterjen. Contoh filler yang biasa digunakan adalah natrium sulfat.

4. Additives (aditif)

Aditif adalah bahan tambahan untuk pembuatan produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelembut, pemutih dan pewarna yang tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Aditif ditambahkan juga untuk mengkomersialkan produk. Contoh aditif, antara lain: enzim, boraks, natrium klorida dan Carboxy Methy cellulose (CMC) digunakan agar kotoran yang telah dibawa oleh deterjen ke dalam larutan tidak kembali lagi ke bahan cucian pada waktu mencuci (anti redeposisi).

2.1.3. Jenis-jenis deterjen

Berdasarkan senyawa organik yang terkandung di dalamnya, deterjen dikelompokkan menjadi:

· Deterjen Anionik

Deterjen jenis ini merupakan deterjen yang mengandung surfaktan anionik yang dinetralkan dengan alkali. Deterjen ini akan berubah menjadi partikel bermuatan negatif jika dilarutkan dalam air. Biasanya digunakan untuk pencuci kain. Kelompok utama dari deterjen anionik, antara lain: rantai panjang (berlemak) alkohol sulfat, alkil lauril sulfonat dan olefin sulfat dan sulfonat.

· Deterjen Kationik

Deterjen jenis ini merupakan deterjen yang mengandung surfaktan kationik. Deterjen ini akan berubah menjadi partikel bermuatan positif jika dilarutkan dalam air. Biasanya digunakan pada pelembut (softener). Selama proses pembuatannya tidak dilakukan netralisasi tetapi bahan-bahan yang mengganggu dihilangkan dengan asam kuat untuk netralisasi. Zat aktif permukaan kationik mengandung kation rantai panjang yang memilki sifat aktif pada permukaannya. Kelompok utama dari deterjen kationik, antara lain:

- Amin Asetat (RNH3)OOCCH3 (R = 8-12 atom C)

- Alkil trimetil amonium klorida (RN(CH3))3+ (R=8-18 atom C)

- Dialkil dimetil amonium klorida (R3N(CH3)2)+Cl- (R = 8-18 atom C)

- Lauril dimetil benzil amonium klorida (R2N(CH3)2CH2CH2CH6)Cl

· Deterjen Nonionik

Deterjen jenis ini merupakan senyawa yang tidak mengandung molekul ion sementara, kedua asam dan basanya merupakan molekul yang sama. Deterjen ini tidak akan berubah menjadi partikel bermuatan jika dilarutkan dalam air tetapi deterjen ini dapat bekerja di dalam air sadah dan dapat mencuci dengan baik . Kelompok utama dari jenis deterjen ini, antara lain:

Etilen oksida atau propilen oksida dan polimer polioksistilen HO(CH2CH2O)a(CH(CH3)CH2O)b(CH2CH2O)cH

· Deterjen Amfoterik

Merupakan deterjen yang mengandung kedua kelompok kationik dan anionik. Deterjen ini dapat berubah menjadi partikel positif, netral, atau negatif bergantung pada pH air yang digunakan. Biasanya digunakan untuk pencuci alat-alat rumah tangga. Kelompok utama dari deterjen jenis ini, antara lain: Natrium Lauril Sarkosilat dan Natrium Mirazol

Adapun mekanisme kerja deterjen dalam membersihkan noda pada pakaian yaitu :

Ketika deterjen dilarutkan ke dalam air, deterjen akan membentuk misel. Misel adalah partikel berukuran koloid yang terbentuk dalam air akibat dari penggabungan molekul-molekul atau ion-ion yang memiliki ujung hidrofobik dan hidrofilik. Ketika pakaian kotor direndam ke dalam larutan deterjen tersebut, bagian ekor pada deterjen (hidrofobik) akan tertarik ke noda berlemak, sedangkan bagian kepala (hidrofilik) akan tertarik ke air. Setelah dikucek dan dibilas, noda berlemak akan diikat oleh deterjen yang akhirnya akan membuat noda tersebut larut dalam air. Itulah sebab mengapa noda berlemak dapat dihilangkan. Jika kotoran berupa lemak atau minyak maka deterjen akan membentuk emulsi minyak–air dan deterjen akan berperan sebagai emulgator (zat pembentuk emulsi), sedangkan jika kotoran berupa tanah maka kotoran tersebut akan diadsorpsi oleh deterjen kemudian membentuk suspensi butiran tanah–air, dimana deterjen berperan sebagai suspensi agent (zat pembentuk suspensi). Dengan adanya penambahan enzim akan membantu surfaktan dalam membersihkan noda sehingga dapat meningkatkan daya kerja dari deterjen.

Parameter-parameter yang dilakukan untuk mengetahui kualitas dari deterjen adalah sebagai berikut:

1. Fisik

Uji ini merupakan uji tampilan fisik dari powder deterjen dan kesesuaian penggunaan jenis bahan aditif seperti speckle atau needle dalam deterjen.

2. Odour

Uji ini merupakan uji terhadap kesesuaian dan kecukupan penggunaan parfum dalam deterjen. Uji ini dilakukan dengan menggunakan indera penciuman.

3. Whiteness

Uji ini merupakan uji fisik untuk menentukan kecerahan warna powder pada deterjen. Uji ini dilakukan dengan menggunakan alat whiteness.

4. BD (Bulk Density)

Berat jenis dari deterjen ditetapkan menggunakan alat BD (Bulk Density) dapat dilihat pada Lampiran 2.

5. MC (Moisture Content)

Uji ini merupakan penentuan kadar air yang terdapat dalam deterjen yang diuji menggunakan alat MC (Moisture Content) yang telah diset pada suhu 105 ºC (Lampiran 2).

6. TR (Temperature Rise)

TR adalah uji kenaikan temperatur saat deterjen dilarutkan di dalam air. Temperatur yang diukur adalah delta (Δ) dari perubahan suhu yang terjadi antara suhu deterjen yang dilarutkan dalam air-suhu air.

7. Karbonat

Penentuan karbonat ini dapat dilakukan melalui dua metode yaitu metode titrasi dan metode gas. Namun, metode yang digunakan adalah metode gas. Karbonat juga memegang peranan yang cukup penting dalam menyangga pH dari deterjen.

8. Total Fosfat

Total fosfat yang terkandung dalam deterjen ini ditetapkan dengan menggunakan instrumen skalar dengan prinsip spektrofotometri. Total fosfat yang digunakan adalah dalam bentuk senyawa STPP (Sodium Tripoly Phospate) yang berguna untuk mengikat ion-ion penyebab kesadahan air pada deterjen. Umumnya fosfat yang digunakan dalam deterjen berkisar antara 30-50 %.

9. Aktif deterjen

Aktif deterjen merupakan salah satu parameter terpenting dalam penentuan kualitas deterjen karena aktif deterjen adalah zat yang menentukan proses pembersihan pada deterjen. Aktif deterjen ditentukan dengan cara titrasi menggunakan metode hiamin.

10. Aktivitas enzim

Aktivitas enzim dalam deterjen ditentukan dengan menggunakan metode spektrofotometri dari instrumen Konelab. Penggunaan enzim dalam deterjen dapat meningkatkan daya kerja deterjen.

2.2. Aktif deterjen

Aktif deterjen merupakan bahan aktif yang digunakan dalam deterjen untuk proses pembersihan pakaian. Aktif deterjen ini adalah komponen yang harus ada dalam deterjen. Penggunaan aktif deterjen juga tentu ditunjang oleh penggunaan bahan penyusun lainnya yang berpengaruh terhadap daya kerjanya. Aktif deterjen hanya dapat menghilangkan noda berlemak dan debu. Noda-noda lain yang sulit dihilangkan akan dibantu pembersihannya oleh adanya enzim dalam deterjen.

Surfaktan yang berperan sebagai aktif deterjen (LAS) yang terkandung dalam deterjen adalah kadar yang diukur sebagai aktif deterjen. Analisis aktif deterjen dapat dilakukan melalui beberapa metode, di antaranya:

1. Metode Metilen Biru

Metode ini berdasarkan pembentukan garam berwarna biru yang larut dalam klorofom jika metilen biru bereaksi dengan anionik surfaktan. Pengukuran dilakukan dengan spektrofotometer pada λ 652 nm (cocok untuk LAS dengan kadar 0.025-100 mg/l).

2. Metode Potensiometri

Metode ini berdasarkan pada terjadinya kesetimbangan tegangan pada dua larutan (two potentiometric equivalence points). Kesetimbangan pertama terjadi ketika asam sulfonat ternetralisasi bersama dengan terputusnya asam sulfat. Kesetimbangan kedua ternetralisasinya asam sulfat. Dimana kadar dari sulfat dan asam sulfonat dapat ditentukan dan keasaman (total acidity) dihitung sebagai mg KOH/g yang dibutuhkan untuk menetralkannya. Analisa ini hanya dapat dilakukan pada surfaktan yang mempunyai kadar air maksimum 2 %.

3. Metode Hiamin

Prinsip dasar dari metode ini adalah Dimidium bromida yang bereaksi dengan anionik surfaktan menghasilkan garam yang larut dalam diklorometana dan membentuk larutan warna merah muda. Kelebihan dari hiamin bereaksi dengan disulphin blue lalu menghasilkan garam yang juga larut dalam diklorometana membentuk larutan berwarna biru.

Di antara ketiga metode ini, metode yang digunakan untuk analisis aktif deterjen di PT. Unilever adalah dengan metode hiamin. Aktif deterjen yang terkandung dalam deterjen ini dihitung berdasarkan ml hiamin yang dibutuhkan untuk menitar larutan deterjen dengan bantuan pelarut organik diklorometana dan acid indikator sebagai penunjuk terjadinya titik akhir titrasi. Hiamin yang digunakan sebelumnya harus ditetapkan dahulu molaritasnya dengan SLS (Sodium Lauryl Sulfate). Untuk setiap varian produk mempunyai spec. kadar aktif deterjen yang berbeda.

Reaksi yang terjadi dalam penetapan aktif deterjen adalah sebagai berikut:

R’-SO3- Na+ + R4N+Cl- àR’-SO3NR4 + NaCl

Keterangan:

R’ : Rantai cabang

R4N+ : Hiamin Ion

2.3. Enzim

Enzim adalah satu atau beberapa gugus polipeptida (protein) yang berfungsi sebagai katalis (senyawa yang mempercepat reaksi tanpa habis bereaksi) dalam suatu reaksi kimia. Enzim juga merupakan sejenis protein yang mempunyai fungsi spesifik dalam menguraikan suatu zat atau senyawa menjadi bentuk yang lebih sederhana. Enzim bekerja dengan cara menempel pada permukaan molekul zat-zat yang bereaksi dan dengan demikian mempercepat proses reaksi. Percepatan terjadi karena enzim menurunkan energi pengaktifan yang dengan sendirinya akan mempermudah terjadinya reaksi.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim, yaitu: suhu, pH, aktivator dan inhibitor, konsentrasi substrat dan enzim.

1. Suhu

Enzim tidak dapat bekerja secara optimal apabila suhu lingkungannya terlalu rendah atau tinggi. Enzim tidak aktif pada suhu < 0 oC dan akan rusak pada suhu diatas 50 oC.

2. pH

Setiap enzim dapat bekerja dengan baik pada pH tertentu yang disebut pH optimum dan pH optimum untuk kebanyakan enzim adalah 7.

3. Aktivator dan Inhibitor

Aktivator adalah zat yang dapat mengaktifkan kerja enzim. Adapun inhibitor adalah zat yang dapat menghambat kerja enzim (menurunkan aktivitas enzim). Contoh aktivator yaitu Ca dan Mg dan contoh untuk inhibitor yaitu As , Hg dan sianida.

4. Konsentrasi substrat dan enzim

Konsentrasi enzim yang tinggi akan mempercepat terjadinya reaksi karena konsentrasi enzim berbanding lurus dengan kecepatan reaksi. Untuk hubungan antara konsentrasi dengan substrat, yaitu semakin tinggi konsentrasi substrat semakin cepat kerja enzim. Namun jika sudah mencapai titik jenuhnya maka konsentrasi substrat akan berbanding terbalik dengan kecepatan reaksi.

Dalam deterjen, enzim juga berperan sama dengan surfaktan yaitu membersihkan noda pada pakaian, tetapi enzim membersihkan noda yang lebih spesifik bergantung pada jenis enzim yang digunakan. Setiap jenis enzim mempunyai tugas masing-masing. Sebagai contoh: lipase berperan menguraikan lipid (lemak), amilase berperan menguraikan karbohidrat dan protease berperan menguraikan protein. Jenis enzim yang biasa digunakan dalam deterjen adalah protease.

Protease merupakan enzim golongan utama hidrolase, yang menghidrolisis polipeptida menjadi asam amino dengan bantuan molekul air. Dalam industri protease digunakan untuk membersihkan kotoran yang berasal dari protein (Cahya dkk. 2009). Kotoran yang berasal dari protein tersebut seperti rumput, darah, kecap, susu dan keringat manusia. Noda protein merupakan noda organik. Noda organik memiliki kecenderungan untuk merekat kuat pada serat tekstil/kain. Protein yang bertindak sebagai perekat, mencegah sistem deterjen yang disalurkan melalui air dan menghilangkan beberapa komponen lain dari ke kotoran seperti pigmen dan debu jalanan. Selain itu, penggunaan protease juga dapat mengurangi penggunaan fosfat dalam deterjen dan menurunkan suhu air untuk mencuci pakaian sehingga dapat menghemat energi dan mengurangi pencemaran lingkungan (Cahya dkk. 2009). Dosis penggunaan protease dalam deterjen adalah 2-10 %.

Penggunaan enzim dalam deterjen dapat memberikan keuntungan-keuntungan, diantaranya:

- Dapat meningkatkan deterjensi atau kinerja deterjen terutama pada suhu rendah dan pH hampir netral.

- Enzim merupakan bahan yang bersifat biodegradable dan tidak berbahaya bagi ekosistem.

- Enzim dapat bereaksi secara spesifik dengan macam-macam pengotor seperti: darah, lemak dan noda yang sulit dihilangkan.

Enzim yang digunakan dalam industri deterjen adalah dalam bentuk granul, yang proses pembuatannya dalam industri sebagai berikut:

Sumber enzim yaitu jamur dan bakteri difermentasikan kemudian hasil dari biakan tersebut diekstraksikan di dalam sebuah tangki besar untuk selanjutnya dibuat menjadi bentuk granul.

Aktivitas dari enzim ditetapkan dengan menggunakan instrumen yang berprinsip spektrofotometri. Sama halnya seperti aktif deterjen bahwa setiap varian dari produk yang dihasilkan juga mempunyai spec. (spesifikasi) enzim yang berbeda.

Dalam analisis enzim ini aktivitas protease didefinisikan sebagai jumlah enzim yang mampu memproduksi (pada pH, substrat, dan temperatur standar) sejumlah gugus amina -NH2 terminal per unit yang berkorespondensi dengan 1µmol Glisin.

2.4. Dasar Teori Instrumen

Konelab 20

Konelab 20 ini merupakan sebuah instrumen untuk analisis enzim, serta ion–ion seperti: Na+, K+, Cl- , Li+ dalam serum, plasma darah, dan urin generasi baru yang muncul setelah Cobasmira. Instrumen yang digunakan untuk menganalisa enzim ini mempunyai prinsip analisis spektrofotometri. Enzim yang dianalisa diukur berdasarkan perubahan absorbansi pada λ 405 nm pada aktivitas proteolitik. Untuk analisis enzim dapat menggunakan suhu 30, 37, 50 ºC. Namun, suhu standar kerja yang dipakai adalah 37 ºC yang dapat digunakan untuk semua metode.

Sistem dalam Konelab ini terdiri dari single dispenser probe, sebuah automatic cuvette segment, pendingin disk reagent, inkubator dan sebuah pengontrol suhu untuk pengukuran fotometrik. Bagian-bagian dari Konelab ini dapat dilihat pada Lampiran 4.

1. Single dispenser probe

Single dispenser ini adalah bagian dari Konelab yang akan mengisi sampel dan reagen ke dalam kuvet untuk analisis.

2. Automatic cuvette segment

Automatic cuvette segment adalah sistem penggunaan kuvet segmen yang dapat berjalan secara otomatis saat analisis berlangsung.

3. Pendingin disk reagent

Disk reagent adalah tempat diletakannya reagen-reagen yang digunakan. Di dalam disk reagent ini terdapat sebuah pendingin yang didinginkan 10ºC di bawah suhu kamar dengan tujuan untuk mengawetkan reagen-reagen yang digunakan agar tidak cepat kadaluarsa.

4. Inkubator

Inkubator yang digunakan untuk menginkubasi sampel yang mengandung enzim ini diinkubasi oleh sebuah elemen pemanas yang dikontrol secara elektronik.

5. Pengontrol suhu

Pengontrol suhu ini digunakan dengan tujuan untuk mengontrol suhu yang digunakan saat analisis. Sama halnya dengan inkubator, pada pengontrol suhu ini juga terdapat sebuah elemen pemanas yang dikontrol secara elektronik.

6. Fotometer

Fotometer yang digunakan adalah sebuah sistem saluran tunggal dengan acuan beam splitting dan 13 interferensi filter antara 340 dan 880 nm yang menggunakan halogen lamp sebagai sumber radiasinya.

7. Sample disk

Sampel yang akan dianalisis dimasukkan ke dalam cup yang ditempatkan pada sebuah segmen sampel. Pada Konelab ini tersedia enam segmen sampel yang dapat memuat 14 cup sample tiap segmennya. Segmen sampel tersebut kemudian akan diletakkan di dalam sample disk.

2.4.1. Mekanisme kerja dan analisis dari Konelab 20

Dalam konelab 20 ini terdapat kuvet pengisi, saat analisis berlangsung kuvet tersebut akan dipindahkan ke dalam inkubator untuk proses inkubasi sampel. Kemudian jarum pemipet akan memipet sampel dan reagen-reagen yang sesuai untuk selanjutnya dicampurkan. Kemudian kuvet tersebut dipindahkan lagi menuju ke fotometer. Absorbansi cahaya diukur pada masing-masing cell dari multicell cuvette. Setelah pengukuran, kuvet tersebut akan dibuang ke dalam wadah penyimpanan limbah. Gambaran mekanisme dari Konelab ini dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8. Skema Mekanisme Kerja Konelab 20

Berikut adalah fotometer yang terdapat di dalam Konelab (Gambar 9)

Gambar 9. Skema Fotometer

Keterangan:

1. Halogen Lamp 6. Beam devider

2. Condensing lenses 7. Reference detector

3. Filter wheel 8. Multicell cuvette

4. Light chopper 9. Signal detector

5. Quartz fibre 10. Measurement electronics

Sumber radiasi dilewatkan dari halogen lamp melalui condensing lenses ke dalam interferensi filter. Permukaan bidang dari condensing lenses pertama dilapisi dengan sebuah bahan yang memancarkan panas dan cahaya inframerah. Di dalam filter wheel ini sudah terpasang sebuah filter interferensi. Setelah penyaringan cahaya diubah menjadi aliran oleh light chopper, kemudian cahaya diarahkan melewati quartz fibre melalui lensa fokus dan celah untuk beam devider. Beam devider ini membagi cahaya menjadi dua bagian. Sebagian cahaya direfleksikan ke reference detector, yang akan memantau tingkat fluktuasi cahaya. Bagian utama dari cahaya diteruskan melalui cairan yang ada didalam multicell cuvette ke signal detector, yang mengukur jumlah cahaya setelah penyerapan. Setelah itu kedua cahaya tersebut akan terbaca pada alat pengukur.

Dalam Konelab, kuvet yang digunakan adalah multicell cuvette. Sehingga dapat menetapkan sampel dalam jumlah banyak (disesuaikan dengan jumlah kuvet dan segmen sampel) secara langsung. Multicell cuvette ini merupakan kuvet sekali pakai

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar